Hadits · Tazkiyah Nufus

Bahaya Riya’ Di Dunia

Bahaya Riya’ Di Dunia

Teks Hadits

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ سَامِعَ خَلْقِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَحَقَّرَهُ وَصَغَّرَهُ

Dari Abdulloh bin Amru radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia (berbuat sum’ah) niscaya Allah akan memperdengarkan niyatnya itu kepada seluruh makhluk-Nya, Dan Allah akan menghinakan dan merendahkan orang itu.”

Takhrij Hadits

  1. Imam Ahmad dalam musnadnya no. 6839,
  2. Ath Thobroni dalam al-Mu’jamul Kabir no. 1493,
  3. Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab no 6821 dari jalan Abu Na’im dan no 6822 dari jalan Abu Ishaq al-fazari dari a’masy

Drajat Hadits

Hadits ini di nilai shahih dengan syarat syaikhoini imam bukhari dan muslim sebagaimana keterangan imam ahmad di dalam musnadnya, Di shahihkan pula oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih at-Targhiib wat Tarhiib no. 25, dan dalam Silsilah Hadits Shohihah oleh No 2566

Hadits Semisal

عَنْ مُعَاذِ بن جَبَلٍ، عَن رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُومُ فِي الدُّنْيَا مَقَامَ سُمْعَةٍ وَرِيَاءٍ إِلا سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ bersabda : “Tidaklah seorang hamba beramal suatu amalan di dunia ini karena sum’ah dan riya’ melainkan Alloh akan memperdengarkan niyat buruknya itu di hadapan makhluk-makhlukNya di hari kiamat.” (HR. Ath Thobroni  dalam al-Mu’jamul Kabir no. 16661 dinilai Shohih lighoirihi oleh Syaikh Al Albani  dalam Shohih at-Targhiib wat Tarhiib no. 28)

عَنْ جُنْدُبْ بْنِ عَبْد ِاللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنَ يُرَائِيَ يُرَائِيَ اللهُ بِهِ

Dari Jundub bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia (berbuat sum’ah) niscaya Allah akan memperdengarkan niyatnya itu, dan barangsiapa yang memperlihatkan amalnya kepada manusia (berbuat sum’ah) niscaya Allah akan memperlihatkan niyatnya itu” (HR. Bukhari dalam kitab ar-Raqaq, Bab riya’ dan Sum’ah 11/226 (6499), Muslim dalam kitab az-Zuhdu war Roqaiq, bab barangsiapa Membuat sekutu dalam amalanya kepada Selain Allah 4/2289 (2987))

Faedah Hadits

Pertama : Kewajiban bagi seorang muslim untuk untuk mengarahkan semua amalanya dengan bermaksud mengharapkan wajah Allah dan Ridhonya, sebagaimana Allah ta’ala berfirman

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, (QS. Al-Bayyinah : 5). Dan juga dengan Firman Allah ta’ala,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. Al-Kahfi : 110 )

Maka menampakkan amalan karena Riya’ maupun Sum’ah hukumnya adalah haram, sebagaimana ditunjjukan dalam sebuah hadits akan hukuman bagi orang yang riya’ pada hari kiamat nanti – jika ia belum taubat ketika masih hidup -, Maka dengan demikian Allah ta’ala memperlakukan pelaku riya’ di dunia dengan akan di tampakkan niatnya kepada manusia, dan Allah akan mengungkapkannya pada hari kiamat di atas kepala makhluk-makhluk itu, akan di perlihatkan ganjaran amalannya, lantas Allah menolak amalannya sedangkan manusia melihatnya, maka ini sesuai dengan pepatah “balasan tergantung dengan jenis amalannya

Kedua: Riya’ merupakan warna dari warna kebohongan, yang itu merupakan Syirik kecil, jika riya’ tersebut  masuk dalam suatu amalan maka akan merusaknya, dengan demikian amalan tidak akan di terima oleh Allag kecuali dengan dua syarat, 1- Ikhlas karena Allah dan 2- Sesuai dengan Syari’at nabi ﷺ, maka kewajiban seorang muslim menjauhi dari sifat riya’ tersebut, dan bersemangat diri untuk menghidarinya ketika akan melakukan suatu amalan, di sebutkan di dalam hadits qudsi, “Allah ta’la berfirman :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Begitu pula peringatan keras bagi orang yang cuma mengharap dunia dalam amalannya, di antaranya adalah mengharap pujian manusia disebutkan dalam hadits berikut ini,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang menutut  ilmu yang sebenarnya harus ditujukan hanya untuk mengharap wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk meraih tujuan duniawi, maka ia tidak akan pernah mencium bau surga pada hari kiamat nanti” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252 dan Ahmad 2: 338. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga : Tidak selayaknya seorang manusia meninggalkan di dalam melakukan amalan yang shaleh karena takut dengan riya’, selayaknya seorang muslim mengerjakan amalannya untuk mengharapkan ridho dari Allah, sedangkan banyak di antara kita yang melakukan amalan ingin di lihat manusia lain. Maka datanglah syeithan kepada seorang muslim untuk meberikan rasa putus asa atas amalanya yang shaleh, dan memberikan kerancuan agar amalanya di lihat oleh manusia yang lain, jika tujuannya sudah tercapai maka hendaknya seorang muslim membentengi dirinya, dan meminta perlindungan kepada Allah, dan tidak pula meninggalkan amalanya.

Imam hasan al-bashri rahimahullah mengatakan, “barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan melainkan di hatinya terdapat dua jalan/pilihan, maka apabila yang pertama dari dua hal tersebut untuk Allah maka jangan sampai berpaling ke yang lainnya.[1]

Berkata pula Ibnu Atsir rahimahullah yang maknanya, “ Jika ingin mengerjakan suatu amalan, dan telah baik niatnya maka akan dating was-was syaithan : engkau ingin di puji, maka hendaknya ia menolak untuk melakukan perbuatan riya tersebut.[2]

Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Barang siapa yang memiliki tujuan yang syar’I seperti melakukan shalat dhuha atau qiyamul lail atau lainya, maka hendaknya ia sholat sebagiamana semestinya, dan hendaknya menjauhkan amalan tersebut untuk tujuan di lihat manusia atau tujuan dunia, an hendaknmya pula ia berjuang untuk menyelamatkan niatnya dari riya dan hal hal yang merusak Keikhlasan niatnya tersebut.[3]

Definisi Riya’

Definis Riya adalah, “seseorang memperlihatkan bahwasanya ia orang baik, padahal hatinya tidak demikian. Artinya, apa yang nampak berbeda dengan apa yang sebenarnya ada padanya”.[4]

Sedangkan secara istilah syar’i, para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi riya’. Tetapi intinya sama, yaitu  “Seorang melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi ia melakukan bukan karena Allah melainkan karena tujuan dunia”.[5]

Al Qurthubi mengatakan : (Hakikat riya’ adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah dan pada asalnya adalah mencari posisi tempat di hati manusia).[6]

Jadi riya’ adalah melakukan ibadah untuk mencari perhatian manusia sehingga mereka memuji pelakunya dan ia mengharap pengagungan dan pujian serta penghormatan dari orang yang melihatnya.[7]

Antara Riya’ dan Sum’ah

Perbedaan riya’ dan sum’ah ialah, riya’ berarti beramal karena diperlihatkan kepada orang lain. Sedangkan sum’ah ialah, beramal supaya diperdengarkan kepada orang lain. Riya’ berkaitan dengan indera mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indera telinga.[8]

Antara Riya’ dan Ujub

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan : “Seringkali orang menghubungkan antara riya’ dan ‘ujub. Padahal riya’ merupakan perbuatan syirik kepada Allah karena makhluk, sedangkan ‘ujub adalah syirik kepada Allah karena nafsu”.[9]

Imam Nawawi rahimahullah berkata : “Ketahuilah, bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ‘ujub. Barangsiapa berlaku ‘ujub (mengagumi) amalnya sendiri, maka akan terhapus amalnya. Demikian juga orang yang sombong”.[10]

‘Ujub, menurut bahasa berarti kekaguman, kesombongan atau kebanggaan. Yaitu seorang bangga dengan dirinya atau pendapatnya. Orang yang berlaku ‘ujub adalah orang yang tertipu dengan dirinya, ibadahnya dan ketaatannya.[11]

Tanda-tanda Riya’

Riya’ mempunyai ciri dan tanda-tanda sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu , bahwa orang yang berlaku riya’ memiliki tiga ciri, yaitu : dia menjadi pemalas apabila sendirian, dia menjadi giat jika berada di tengah-tengah orang banyak, dia menambah kegiatan kerjanya jika dipuji dan berkurang jika diejek.[12]

Tanda yang paling jelas ialah merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Andaikan orang tidak melihatnya, dia tidak merasa senang. Dari sini diketahui, bahwa riya’ itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang melihatnya, maka menimbulkan kesenangan. Dan kesenangan ini bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya. Bahkan ia berusaha agar amalnya itu diketahui, baik secara sindirian atau terang-terangan.[13]

Diriwayatkan bahwa Abu Umamah al Bahili pernah mendatangi seseorang yang sedang bersujud di masjid sambil menangis ketika berdoa. Kemudian Abu Umamah mengatakan kepadanya : “Apakah engkau lakukan seperti ini jika engkau shalat di rumahmu?” (Teguran dimaksudkan untuk menghilangkan sikap riya’).[14]

Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam bis sowab

 


[1] Al-Baihaqi dalam Syua’bul iman 5/347 (6884)

[2] Lihat kitab an-Nihayah fi gharibil hadits wal atsar oleh ibn atsir 5/286

[3] Lihat Majmu’ fatawa Oleh Syikhul Islam Ibn taimiyah 23/173-174

[4] Lihat Mu’jamul Wasith (I/320).

[5] Lihat Al Ikhlas, oleh Dr. Umar Sulaiman al Asyqar, hlm. 94, Cet. Daarun Nafa-is, Th. 1415 H.

[6] Lihat Tafsir al Qurthubi (XX/144), Cet. Daarul Kutub al Ilmiyyah, Th. 1420 H.

[7] Lihat Fathul Bari (XI/336)

[8] Lihat Fathul Bari (XI/336) dan Al Ikhlas, hlm. 95, Dr. Umar Sulaiman al Asyqar.

[9] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/227)

[10] Lihat Syarah Arbain, hlm. 5

[11] Lihat Al Ikhlas, hlm. 97, Dr. Umar Sulaiman al Asyqar

[12] Lihat Al Kabair, Imam adz Dzahabi hlm. 212, tahqiq Abu Khalid Al-Husain bin Muhammad As Sa’idi, Cet. Darul Fikr.

[13] Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah al Maqdisi, hlm. 280

[14] Lihat Al Kabair, Imam adz Dzahabi, hlm. 211.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s