Hadits · Kisah

Kisah Dayyuts

Dayyuts,

Profil Seorang Suami dan Bapak yang Buruk Bagi Istri dan Anak-Anak

Teks hadits

عَنْ عَمَّارٍ بْنِ يَاسِرٍ رضي الله عنه عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ثَلَاثَةٌ لَا يَدْخُلُوْنَ الجَنَّةَ أَبَدًا: الدَّيُّوْثُ وَالرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ وَمُدْمِنُ الخَمْرِ قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ أَمَّا مُدْمِنُ الخَمْرِ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ فَمَا الدَّيُّوْثُ؟ قَالَ الَّذِيْ لَا يُبَالِيْ مَنْ دَخَلَ عَلَى أَهْلِهِ قُلْنَا فَمَا الرَّجُلَةُ مِنَ النِّسَاءِ قَالَ: الَّتِيْ تَشَبَّهَ باِلرِّجَالِ

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga selamanya: dayyuts, ar-Rajulatu minannisa`, dan pecandu khamr (minuman memabukkan).” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kalau pecandu khamr kami sudah paham, kalau dayyuts?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Dayyuts adalah yang tidak peduli siapa-siapa yang masuk menemui keluarganya.” Para sahabat kembali bertanya: “Kalau ar-Rajulatu minannisa`?” Rasulullah menjawab: “Perempuan yang menyerupai laki-laki.”

Takhrij Hadits

  1. al baihaqi dalam Syu’abul Iman no 10310, dan Thabrani. dinilai shahih lighairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib no. 2071,2361)

Definisi Dayyuts

Makna ad-dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya.[1] disebutkan dalam Al Mu’jam Al Wasith ad-dayyuts adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu.

Lawannya adalah al-gayur, yaitu orang yang memiliki kecemburuan besar terhadap keluarganya sehingga dia tidak membiarkan mereka berbuat maksiat.[2]

Ancaman keras dalam hadits ini menunjukkan bahwa perbuatan ini termasuk dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah Ta’ala, karena termasuk ciri-ciri dosa besar adalah jika perbuatan tersebut diancam akan mendapatkan balasan di akhirat nanti, baik berupa siksaan, kemurkaan Allah ataupun ancaman keras lainnya.[3]

Oleh karena itulah, Imam Adz-Dzahabi mencantumkan perbuatan ini dalam kitab beliau “Al-Kaba-ir” (hal. 55), dan beliau berkata setelah membawakan hadits di atas: “Dalam hadits ini (terdapat dalil yang menunjukkan) bahwa tiga perbuatan tersebut termasuk dosa-dosa besar.”[4]

Yang dimaksud tidak punya rasa cemburu dari suami adalah membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan. Bentuknya pada masa sekarang Semisal, Membiarkan anak perempuan atau anggota keluarga perempuan berhubungan via telepon atau SMS dengan laki-laki yang bukan mahram. Mereka saling berbincang hangat, sambil bercumbu rayu, padahal tidak halal. Merelakan anggota keluarga perempuan ber-khalwat –berdua-duaan- dengan laki-laki bukan mahram. Membiarkan anggota keluarga perempuan mengendarai mobil sendirian bersama laki-laki bukan mahram, misalnya sopirnya. Merelakan anggota keluarga perempuan keluar rumah tanpa menggunakan jilbab atau hijab syar’i, sehingga bisa dipandang dengan leluasa, ditambah parahnya menggunakan pakaian ketat yang merangsang nafsu birahi para pria. Mendatangkan film dan majalah penyebar kerusakan dan kemesuman ke dalam rumah. [5]

Cemburu pada Diri Seorang Muslim

Adapun sifat cemburu bagi seorang muslim, maka ia adalah sifat yang terpuji. Sebuah sifat yang akan mendorong seseorang untuk mencegah keburukan atau kemaksiatan pada diri orang lain. Bahkan seorang laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu pada keluarganya mendapatkan ancaman yang mengerikan, yaitu tidak bisa masuk surga. Istri atau anaknya berbuat maksiat ia diamkan saja tanpa dicegah, istri atau anak perempuannya keluar rumah tanpa menutup aurat dibiarkan saja tanpa dilarang. Orang seperti inilah yang disebut dengan dayyuts.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Ada tiga golongan manusia yang Allah haramkan bagi mereka surga: pecandu khamr (minuman memabukkan), anak yang durhaka pada orang tua, dan dayyuts yaitu yang membiarkan istrinya (keluarganya) berbuat maksiat.” (HR. Ahmad 5372, dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihut Targhib wat Tarhib 2366)

Maka sudah seharusnya seorang suami atau ayah untuk selalu berhias dengan rasa cemburu. Dia harus cemburu ketika istrinya atau anak perempuannya keluar rumah tanpa menutup auratnya dengan baik atau berasama laki-laki yang bukan mahrom. Dia juga harus cemburu ketika keluarganya berbuat maksiat. Sehingga dengan rasa cemburu ini seorang muslim akan berusaha selalu menjauhkan dirinya dan keluarganya dari perbuatan dosa dan maksiat. Hendaknya seorang muslim melihat bagaimanakah rasa cemburu yang ada pada dirinya. Jangan-jangan ia termasuk dayyuts yang telah disebutkan dalam hadits di atas. Semoga Allah melindungi kita dari sifat ini.

Meski demikian, kecemburuan seseorang kepada keluarganya tidak boleh sampai berlebihan hingga membuatnya selalu berburuk sangka dan mencari-cari aib atau kesalahan pada keluarganya, karena perbuatan ini juga dilarang oleh Nabi ﷺ. Beliau bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا، وَلاَ تَجَسَّسُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dustanya perkataan, dan janganlah kalian mencari-cari kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling membenci, dan saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari 6724)

Allahpun Punya Sifat Cemburu

Dalam sebuah Hadits yang bersumber dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللهُ

 “Sesungguhnya Allah cemburu, dan kecemburuan Allah itu ketika seorang mukmin mendatangi apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Bukhari 5223 dan Muslim 2761)

Melalui hadits ini Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada kita akan salah satu sifat Allah ta’ala. Dimana Allah memiliki sifat-sifat yang mulia yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Allah ta’ala bisa kita kenali dengan mempelajari sifat-sifatNya dalam al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ.

Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh salah seorang ulama besar di zamannya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala yang berkata di awal kitabnya al-Aqidah al-Wasitiyah:

وَمِنَ الإِيْمَانِ بِاللهِ الإِيْمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِيْ كِتَابِهِ وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُوْلُهُ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيْفٍ وَلَا تَعْطِيْلٍ وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِيْفٍ وَلَا تَمْثِيْلٍ

“Termasuk keimanan kepada Allah adalah beriman dengan apa saja yang telah Allah sifati diri-Nya dengannya di dalam kitab-Nya dan dengan apa yang telah disifatkan oleh Rasul-Nya, tanpa menyalah-artikannya dan menolaknya, serta tanpa bertanya tentang bagaimananya, dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk.”

Dampak Buruk dari ad-dayyuts

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat, di antaranya perbuatan ad-diyatsah/ad-dayytus (membiarkan perbuatan buruk dalam keluarga) yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghirah dalam hati pelakunya, beliau berkata, “…Oleh karena itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk surga, demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan zhalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghirah (dalam diri seseorang). Ini semua menunjukkan bahwa asal (pokok) agama (seseorang) adalah sifat ghiroh. Barangsiapa yang tidak memiliki sifat ghirah maka berarti dia tidak memiliki agama (iman). Karena sifat inilah yang akan menghidupkan hati (manusia) yang kemudian menghidupkan (kebaikan pada) anggota badannya, sehingga anggota badannya akan menolak (semua) perbuatan buruk dan keji (dari diri orang tersebut). Sebaliknya, hilangnya sifat ghirah akan mematikan hati (manusia) yang kemudian akan mematikan (kebaikan pada) anggota badannya, sehingga sama sekali tidak ada penolak keburukan pada dirinya…”[6]

Adapun keburukan terhadap agama istri dan anak-anaknya, dengan membiarkan atau menuruti keinginan mereka dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat, ini berarti menjerumuskan mereka ke dalam jurang kehancuran. Seorang istri bagaimana pun baik sifat asalnya, tetap saja dia adalah seorang perempuan yang lemah dan asalnya susah untuk diluruskan, karena diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, ditambah lagi dengan kekurangan pada akalnya. Rasulullah bersabda,

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ

“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidup)nya.” (HR Muslim no. 1468)

Terlebih lagi anak-anak, jika tidak diarahkan kepada kebaikan dan dibiarkan larut dalam maksiat, maka tentu mereka akan terbiasa dan menganggap remeh maksiat tersebut sampai mereka dewasa.

Seorang penyair berkata:

Anak kecil itu akan tumbuh dewasa di atas apa yang terbiasa (didapatkannya) dari orang tuanya
Sesungguhnya di atas akarnyalah pohon itu akan tumbuh[7]

Senada dengan syair di atas ada pepatah arab yang mengatakan:

“Barangsiapa yang ketika muda terbiasa melakukan sesuatu maka ketika tuapun dia akan terus melakukannya.”[8]

Nasehat untuk para kepala keluarga

Allah Ta’ala mengingatkan secara khusus kewajiban para kepala keluarga ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At Tahriim: 6)

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya): Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”[9]

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang berada di bawah kekuasaan dan tanggung jawabnya.”[10]

Demikianlah ulasan kami, semoga bermanfaat, Wallahu a’lam

 


[1] Lihat Fathul Baari, 10/406. Makna ini disebutkan dalam riwayat lain dari hadits di atas dalam Musnad Imam Ahmad, 2/69. Akan tetapi sanadnya lemah karena adanya seorang perawi yang majhul/tidak dikenal. Lihat Silsilatul Ahaaditsish Shahihah, 2/284

[2] Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 9/357

[3] Lihat Kitabul Kaba-ir, hal. 4 oleh Imam asz-Dzahabi

[4] Dinukil oleh Al-Munawi dalam Faidhul Qadiir, 3/327. Ucapan ini tidak kami dapati dalam dua cetakan kitab Al-Kaba-ir yang ada pada kami

[5] https://rumaysho.com/10171-tipe-suami-yang-tidak-punya-rasa-cemburu-dayyuts.html

[6] Lihat Ad-Da-u wad Dawaa’, hal. 84

[7] Lihat Adabud Dunya wad Diin, hal. 334

[8] Dinukil dan dibenarkan oleh syaikh Muhammad bin Shaleh Al ‘Utsaimin dalam Majmu’atul as-Ilah Tahummul Usratal Muslimah, hal. 43

[9] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/535. Dishahihkan oleh Al Hakim sendiri dan disepakati oleh Adz-Dzahabi

[10] Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 640 oleh Syeikh as-Sa’di

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s